SIKAP DALAM BERTHORIQOH
Sikap yg pertama, Mukhassabah, artinya kemampuan untuk senantiasa menghisab diri sendiri, ada keberanian yang timbul pada diri untuk otokritik terhadap diri sendiri, seperti "Apa sih yang mendasari niat kita dari awal untuk ikut berthoriqoh? Apakah hanya sekedar ikut-ikutan karena diajak teman? Apakah karena berthoriqoh manakala ada problem rumah tangga? Apakah karena proyek tidak jalan-jalan ketika pas sepi proyek? Apakah karena stress yang berkepanjangan karena berbagai faktor yang menindih tak kunjung selesai malah makin ruwet sepertinya kemudian kita mengkompensasi dalam 'Eskapisme sufistik'?
Ini semua real di kehidupan kita khususnya dikota2 besar, ya baiklah mari kita telaah dengan seksama. Swargi Romo Mursyid Kyai Abdul Djalil Mustaqiim (Swargi adalah sebutan pernghormatan dalam Bahasa Jawa untuk mereka yang sudah meninggal) pernah ngendikan,
"Bejo bejo ning wong kuwi, wong sing teguh mawengkuni thoriqoh, sebab wong kuwi kataqdir kapilih dening Allah, wong kok gelem mawengkuni thoriqoh iku bejo kemayangan amargo kapilih."
Ini jelas bahwa orang yang berthoriqoh itu atas takdir Allah, orang yang paling beruntung karena dia masuk orang pilihan Allah, makna yang lain jamaah thoriqoh itu spesifik, khas, khusus, sehingga mempunyai karakter yang sangat unik makanya dia bisa menjadi pembeda atas komuniitas yang lain, sekaligus menjadi teladan, untuk itulah dia terpilih. Swargi Mbah Mat Abdul Haq Watungcongol,Muntilan Magelang ngendikan :
"Wong thoriqoh kuwi wong sing ugemi dalane para leluhur poro ulomo kuno kuno, tegese: 'Ihhdinassyiroothol Mustaqiim' kuwi yo dalane wong thoriqoh sing diugemi poro ulomo sing tansah kanugerahan ni'mat sing edhi - edhi amargo teguh nyepengi amalani thoriqoh."
Jadi jelas sudah sebagaimana keistimewaan orang yang berthoriqoh, andaikata kita berthoriqoh karena problem suami atau istri atau anak yang bermasalah sehingga kita terus menerus berdoa maka mungkin itulah yang menghantarkan kita ke gerbang pintu thoriqoh, andaikata kita kemarin stress ruwet, proyek kok tidak ada yang pernah berhasil, usaha tak pernah tidak gagal hingga kita 'loosing' akhirnya pasrah sama Allah itulah yang menghantarkan kita ke pintu gerbang thoriqoh, jadi sudah saatnya mulai kita luruskan niat kita sehingga kita membuka pintu gerbang Thoriqoh dengan Bissmillah yang lebih baik, lebih bernas, lebih dalam dan lebih bersih dan apik.
Sikap kedua adalah Taslim, sikap patuh, kepatuhan kepada Mursyid harus senantiasa kita tumbuhkan dengan rasa 'Khusnudzon'. Ini mutlak apabila kita mengaku sebagai jamaah thoriqoh. Prasangka dan sak wasangka, perlu kita jauhkan karena ini akan berakibat fatal bagi si murid karena dia akan senantiasa terkunci dalam lingkar luar pintu gerbang thoriqoh yang penuh kerahasiaan dan keistimewaan karena memang sudah lazimnya demikian, si murid tak akan pernah melihat cahaya apabila dalam dirinya terhalangi oleh gelap gelamnya nafsunya sendiri jadi tanpa ahlak ketasliman “ non sense” si murid mampu membuka pintu gerbang.
Bahkan kemungkinan dia akan makin tersesat di jalan (yang dianggapnya benar) ketasliman kepada guru atas mursyid itu semestinya tanpa reserve karena itulah adab dan akhlaq kita pada mursyid, dalam sebuah jagongan di sore hari di bangku halaman samping griyo Swargi Mbah puteri Nyai Gus Jogo Reso( Gunung pring muntilan) pernah dawuh,
"Le! Wong thoriqoh mono koyo dene mayit, kang dikafani telung lapis, tho? Kafan lapis awal kuwi yo teguh teteg nyekeli Iman, kafan lapis kepindo kuwi sethiti anggonmu amal minongko Islam Ian lapis kafan ketelu kuwi yang nasthithi angganmu laku lampah adab akhlaq minongko Ihsan !
(terjemahan ) “ nak, orang berthoriqoh itu laksana mayit, yang dibungkus oleh 3 lapis kain kafan; lapis kafan pertama itu keteguhan yang memegang erat, prinsip prinsip Iman, lapis kafan kedua itu teliti dengan sekskama akan amal yang ikhlas sebagai perwujudan Islam dan lapis kafan ketiga itu berhati-hati dalam segala tindak tandukmu sebagai perwujudan adab dan akhlak yakni 'Ihsan'.
Demikianlah ketasliman yang semestinya senantiasa kita tumbuh kembangkan pada diri orang yang berthoriqoh.
Sikap ketiga adalah Tafahhum, yakni sikap memahami dengan keyakinan yang benar bahwa setiap dawuh dari mursyid itu haq dan wajib diupayakan utnuk dilaksankan karena Sang Mursyid pada gholibnya adalah wakil dari Rasullullah. Beliau adalah bapak spriritual yang mampu menghantarkan si murid untuk membukakan pintu-pintu gerbang thoriqoh sesuai dengan momentum dan kapasitas diri masing-masing murid, sesuai dengan karakter kita yang berbeda-beda. Sungguh ulama sekaliber Imam Ghozali pun akhirnya harus menempuh Berthoriqoh karena hampir mustahil bagi manusia untuk mengenal dirinya sendiri apalagi mengenal Allah tanpa dibimbing oleh sang Mursyid.
Wallahu a'lam

