Minggu, 23 Desember 2018

SIKAP DALAM BERTHORIQOH || Habib Luthfi Bin Yahya

 SIKAP DALAM BERTHORIQOH




Sikap yg pertama, Mukhassabah,  artinya kemampuan untuk senantiasa menghisab diri sendiri, ada keberanian yang timbul pada diri untuk otokritik terhadap diri sendiri, seperti "Apa sih yang mendasari niat kita dari awal untuk ikut berthoriqoh? Apakah hanya sekedar ikut-ikutan karena diajak teman? Apakah karena berthoriqoh manakala ada problem rumah tangga? Apakah karena proyek tidak jalan-jalan ketika pas sepi proyek? Apakah karena stress yang berkepanjangan karena berbagai faktor yang menindih tak kunjung selesai malah makin ruwet sepertinya kemudian kita mengkompensasi dalam 'Eskapisme sufistik'?

Ini semua real di kehidupan kita khususnya dikota2 besar, ya baiklah mari kita telaah dengan seksama. Swargi Romo Mursyid Kyai Abdul Djalil Mustaqiim (Swargi adalah sebutan pernghormatan dalam Bahasa Jawa untuk mereka yang sudah meninggal) pernah ngendikan,

"Bejo bejo ning wong kuwi, wong sing teguh mawengkuni thoriqoh, sebab wong kuwi kataqdir kapilih dening Allah, wong kok gelem mawengkuni thoriqoh iku bejo kemayangan amargo kapilih."

Ini jelas bahwa orang yang berthoriqoh itu atas takdir Allah, orang yang paling beruntung karena dia masuk orang pilihan Allah, makna yang lain jamaah thoriqoh itu spesifik, khas, khusus, sehingga mempunyai karakter yang sangat unik makanya dia bisa menjadi pembeda atas komuniitas yang lain, sekaligus menjadi teladan, untuk itulah dia terpilih. Swargi Mbah Mat Abdul Haq Watungcongol,Muntilan Magelang ngendikan :

"Wong thoriqoh kuwi wong sing ugemi dalane para leluhur poro ulomo kuno kuno, tegese: 'Ihhdinassyiroothol Mustaqiim' kuwi yo dalane wong thoriqoh sing diugemi poro ulomo sing tansah kanugerahan ni'mat sing edhi - edhi amargo teguh nyepengi amalani thoriqoh."

Jadi jelas sudah sebagaimana keistimewaan orang yang berthoriqoh, andaikata kita berthoriqoh karena problem suami atau istri atau anak yang bermasalah sehingga kita terus menerus berdoa maka mungkin itulah yang menghantarkan kita ke gerbang pintu thoriqoh, andaikata kita kemarin stress ruwet, proyek kok tidak ada yang pernah berhasil, usaha tak pernah tidak gagal hingga kita 'loosing' akhirnya pasrah sama Allah itulah yang menghantarkan kita ke pintu gerbang thoriqoh, jadi sudah saatnya mulai kita luruskan niat kita sehingga kita membuka pintu gerbang Thoriqoh dengan Bissmillah yang lebih baik, lebih bernas, lebih dalam dan lebih bersih dan apik.

Sikap kedua adalah Taslim, sikap patuh, kepatuhan kepada Mursyid harus senantiasa kita tumbuhkan dengan rasa 'Khusnudzon'. Ini mutlak apabila kita mengaku sebagai jamaah thoriqoh. Prasangka dan sak wasangka, perlu kita jauhkan karena ini akan berakibat fatal bagi si murid karena dia akan senantiasa terkunci dalam lingkar luar pintu gerbang thoriqoh yang penuh kerahasiaan dan keistimewaan karena memang sudah lazimnya demikian, si murid tak akan pernah melihat cahaya apabila dalam dirinya terhalangi oleh gelap gelamnya nafsunya sendiri jadi tanpa ahlak ketasliman “ non sense” si murid mampu membuka pintu gerbang.

Bahkan kemungkinan dia akan makin tersesat di jalan (yang dianggapnya benar) ketasliman kepada guru atas mursyid itu semestinya tanpa reserve karena itulah adab dan akhlaq kita pada mursyid, dalam sebuah jagongan di sore hari di bangku halaman samping griyo Swargi Mbah puteri Nyai Gus Jogo Reso( Gunung pring muntilan) pernah dawuh,

"Le! Wong thoriqoh mono koyo dene mayit, kang dikafani telung lapis, tho? Kafan lapis awal kuwi yo teguh teteg nyekeli Iman, kafan lapis kepindo kuwi sethiti anggonmu amal minongko Islam Ian lapis kafan ketelu kuwi yang nasthithi angganmu laku lampah adab akhlaq minongko Ihsan !

(terjemahan ) “ nak, orang berthoriqoh itu laksana mayit, yang dibungkus oleh 3 lapis kain kafan; lapis kafan pertama itu keteguhan yang memegang erat, prinsip prinsip Iman, lapis kafan kedua itu teliti dengan sekskama akan amal yang ikhlas sebagai perwujudan Islam dan lapis kafan ketiga itu berhati-hati dalam segala tindak tandukmu sebagai perwujudan adab dan akhlak yakni 'Ihsan'.

Demikianlah ketasliman yang semestinya senantiasa kita tumbuh kembangkan pada diri orang yang berthoriqoh.

Sikap ketiga adalah Tafahhum, yakni sikap memahami dengan keyakinan yang benar bahwa setiap dawuh dari mursyid itu haq dan wajib diupayakan utnuk dilaksankan karena Sang Mursyid pada gholibnya adalah wakil dari Rasullullah. Beliau adalah bapak spriritual yang mampu menghantarkan si murid untuk membukakan pintu-pintu gerbang thoriqoh sesuai dengan momentum dan kapasitas diri masing-masing murid, sesuai dengan karakter kita yang berbeda-beda. Sungguh ulama sekaliber Imam Ghozali pun akhirnya harus menempuh Berthoriqoh karena hampir mustahil bagi manusia untuk mengenal dirinya sendiri apalagi mengenal Allah tanpa dibimbing oleh sang Mursyid.

Wallahu a'lam

KH. Ahmad Fauzan Saripan Jepara

KH. Ahmad Fauzan Saripan Jepara




KH. Ahmad Fauzan dilahirkan kurang lebih pada tahun 1320 H/1905 M di dukuh Penggung, Gemiring Lor, Kec. Nalumsari. Dari keluarga Ibu Nyai Thahirah binti K. Harun bin Kyai Arif dan KH. Abdul Rasul bin Kyai Ahmad Sanwasi.

Kyai Ahmad Fauzan adalah salah satu dari lima ulama non koorperatif terhadap kolonial Belanda di kawasan Pantai Utara Pulau Jawa. Lima Ulama’ tersebut ialah: Mbah Sulaiman (Raden Ngabei Brontodiwiryo, makamnya di Jakenan, Pati), Mbah Abu Sujak, Mbah Mursidin, Mbah Bunggoro dan Mbah Ahmad Sanwasi (kakek Mbah Fauzan, makanya di Penggung dekat Bale Kambang Mayong Jepara).

Beliau berangkat dari keluarga sederhana, santun, relegius dan alami. Kondisi keluarga yang demikian itulah yang menumbuhkan berkah tersendiri bagi beliau KH. Ahmad Fauzan untuk membina keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Pada zaman Jepang Al-Maghfurlahu mengalami penderitaan yang luar biasa, ditangkap dan disiksa oleh Jepang atas dakwaaan jajaran pamong praja Kabupaten Jepara sebagai biang kerusuhan dan kekacauan di kawasan Jepara. Kondisi ini disebut sebagai masa beliau dalam “pesakitan”. Namun karena tidak terbukti akhirnya beliau dibebaskan oleh Jepang.

Pada tahun 1945, suatu peristiwa yang menggemparkan, terjadi di wilayah Pati. Di wilayah ini para kyai berkumpul dan bermusyawarah bagaimana kiat-kiat agar tentara Jepang menyerah. Atas dasar aklamasi, para kyai menyepakati KH. Ahmad Fauzan untuk memimpin penyerangan melawan tentara Jepang. Niat yang tulus ikhlas dan tekad bulat beliau akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT, seluruh pasukan Jepang bertekuk lutut pada rakyat Indonesia di Pati.

Memasuki era kemerdekaan Al-Maghfurlahu sangat aktif pada gerakan-gerakan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Misalnya sebelum aksi polisi Belanda sampai di Jepara. Disamping itu, beliau sebagai figure pemimpin oleh Alm. Amin Fattah, serta beliau menggelar pengasmaan bambu runcing di halaman masjid Darussalam Saripan Jepara. Disamping itu, beliau menjadi asisten bupati yang waktu itu dipimpin Bupati Militer Mayor Ishak.

Oleh karena itu beliau menjadi incaran tentara kolonial Belanda dimana saja dan selalu dikejar-kejar. Sehingga akhirnya ditangkap di Bangsri dan dimasukkan ke dalam sel tahanan Belanda di Jepara. Baru setelah terjadi penyerahan kedaulatan dari tangan Belanda kepada Republik Indonesia tahun 1949, beliau dibebaskan dari tahanan. Setelah bebas, beliau kembali ke masyarakat dalam rangka ikut mengisi kemerdekaan. Beliau langsung diangkat oleh pemerintahan RI dan diamanati membangun serta memimpin Kepala Kantor urusan Agama Kabupaten Jepara yang pertama setelah revolusi dan pernah menjadi anggotra DPRD.

Sekalipun menjadi elit birokrat, beliau tidak pernah melupakan jati dirinya yang berdarah santri. Hal itu terbukti ketika beliau mengadakan kun jungan di kantor-kantor KUA (Kantor Urusan Agama) kecamatan pasti dibarengi menghadiri pengajian masyarakat (yang sekarang menjadi pengajian idaroh syuriah) yang diprogramkan oleh beliau melalui kepala-kepala KUA di wilayah kecamatannya. Oleh karena itu beliau memberikan persyaratan kepada setiap kepala KAU harus dapat membaca kitab kuning.

Hasil dari kegiatan pengajian rutin tersebut, pada tahun 1955 dibawah kepemimpinan Al-Maghfurlahu KH. Ahmad Fauzan dan KH. Abdur Rosyid beserta dukungan penuh solid para kyai-kyai partai NU (Nahdlotul Ulama’) Jepara mengukir kemenangan mutlak dalam pemilu RI tahun 1955. Dengan cara dan sikap integritas serta akomodatif yang dimilikinya, beliau berhasil menjalin komunikasi dengan semua pihak baik kawan maupun lawan.

Akhlak dan Tasawuf Kyai Fauzan

Kyai Fauzan menawarkan kajian akhlaq tasawuf untuk menghindari kajian akhlaq yang hanya berada pada tataran pemikiran yang tidak memberikan bekas pada seseorang menjadi orang-orang yang memiliki akhlakul karimah. Untuk menggapai akhlakul karimah diperlukan proses yang biasa dilakukan oleh kalangan Mutashowwifin (Pengamal tasawuf) karena sejatinya esensi dari tasawuf adalah pencapaian akhlaqul karimah.

قيمة إنسان بقدر الآدب اي لا بقوة ومال نسب

Harga diri seseorang itu diukur dengan kadar budi pekertinya atau akhlaknya  artinya tidak dengan sisi keperkasaan, sisi kepemilikan harta dan sisi keturunan. (Fauzan n.d.)

Dalam bait di atas seolah-olah Kyai Fauzan memberikan standarisasi terhadap kemuliaan seseorang dengan parameter akhlak, bukan dengan kepemilikan materi, keperkasaan, dan nasab yang unggul (Masyhud 2016)

Kyai Fauzan mengajarkan agar menjalankan akhlaq Mah}}mudah (terpuji) dan menjauhi Akhlaq Mad}mumah. Beliau menyebutkan dalam kitabnya Alfiyah Al-Ghazali ta`’lif al-‘Allamah KH Fauzan Syarifan Jepara. Pemikiran akhlaq-tasawuf Kyai Fauzan terlukis dalam syair (Masyhud 2016) :

عليك بالصبر وشكر وسلام رضا وزهد ولذنبك ندم

بين الرجا والخوف عدل وخلق اخلاص حب مولي مع قلب عشوق

Hendaknya kamu memiliki (akhlak) sabar, syukur, memberi salam, ridha, zuhud, taubat, raja’, dan khauf, adil, ikhlas, mahabbah terhadap tuhan, dengan cara sepenuh hati. (Fauzan n.d.)

Banyak sekali tamu berkunjung ke rumah beliau dengan berbagai permasalahanya, meminta doa atas permalahan yang dihadapinya, meminta bantuan atas kesulitanya, diceritakan oleh  KH Saifudin Zuhri. Allahu Yarhamuh pada waktu tersebut masih menjabat Kakanwil Depag menceritakan saat berkunjung ke rumah beliau ada seorang pengemis dengan pakaian lusuh serta caping kropak (Topi tradisional khas Jawa yang terbuat dari daun siwalan) meminta makanan karena lapar. Oleh beliau Kyai Fauzan orang tersebut didahulukan untuk memberinya makanan dibandingkan dengan tamu-tamu yang lainya.

Wafatnya KH. Ahmad Fauzan

Detik-detik kepergiannya ke rahmatullah, beliau masih dalam keadaan muthala’ah kitab tafsir yang kebetulan sedang disowani Alm. Abdul Hamid, seorang kepercayaan beliau sebagai bendahara/bagian keuangan ketika beliau menjabat sebagai Kandepag Jepara.

Akhirnya tepat hari Selasa, 6 Robi’us Tsani 1933 H atau bertepatan dengan 17 Mei 1972 M, pukul 11.00 WIB beliau kembali ke rahmatullah. Menjelang pemakaman, ada musyawarah yang cukup melibatkan banyak orang, ada beberapa pendangan tentang tempat pemakaman. Ada yang berpendapat sebaiknya dimakamkan di Jepara karena beliau kyainya orang Jepara, ada pula yang menginnginkan di Bangsri karena istri beliau yang terakhir di Bangsri. Sebagai jalan tengah, KH. Amin Sholeh, Allahu yarhamuh, memberikan fatwa agar keputusan pemakaman ini dekembalikan/diserahkan kepada istri beliau yang masih hidup, yaitu Ibu Hj. Mu’minah. Beliau (Ibu Hj. Mu’minah) menyarankan agar dimakamkan di Bangsri. Akhirnya semua keluarga, para tokoh dan masyarakat kaum muslimin sepakat menerima keputusan tersebut.

Akhirnya beliau dimakamkan di pemakaman Suromoyo Kedungleper Ampean Bangsri Kabupaten Jepara. Hadir ketika pemakaman, KH. Arwani Amin Kudus, KH. Abdullah Hadziq Balekambang Mayong Jepara, KH. Abdullah Salam Kajen Pati dan ulama’-ulama’ se-Karesidenan Pati.

له الفاتحة ...